CERPEN (Cerita Pendek)
FRIEND ZONE
Karya : Dinda Aprilia Putri
“Lusy, Cepetan astaga! Nanti aku telat masuk sekolah!” teriak Camlo dari dalam mobil yang diparkir di depan rumah.
“Santai dong, ini juga udah selesai dandannya” ucap Lussy sembari menghampiri kakaknya yang sudah mulai cerewet.
“Susah ya, kalau anak cewek udah puber kaya gini! Kerjaanya tiap hari dandan terus” ejek Camlo karena dia kesal jika setiap pagi harus menunggu adiknya berdandan.
“Yah bawel kamu kak! Udah cepetan jalan nanti keburu telat!” ucap Lusy
“Shit! Bukannya daritadi aku yang nungguin kamu ya?!” kata Camlo kesal.
Mereka berdua adalah kakak beradik yang bertolak belakang. Kenapa? Karena hari-hari mereka dipenuhi dengan pertengkaran, padahal umur mereka hanya beda dua tahun saja. Keduanya memiliki sifat yang berbeda, kakaknya Camlo memiliki sifat yang tidak sabaran, selalu ingin semuanya jadi cepat. Sedangkan Lussy adalah gadis yang suka bermalas-malasan, setiap pekerjaannya selalu dikerjakan jika waktunya sudah mendesak, karena menurut Lusy itu adalah salah satu cara untuk menambah semangat. Camlo dan Lusy selalu didaftarkan disatu sekolah yang sama, karena Maminya berharap Camlo bisa melindungi adiknya saat di sekolah. Setiap hari mereka berangkat sekolah bersama.
Setelah sampai sekolah Camlo memarkirkan mobilnya dan segera masuk ke kelas, kelas Camlo bersebelahan dengan adiknya Lusy.
Saat mereka berdua sedang berjalan menuju kelas, Lussy tiba-tiba mengagetkan Camlo dengan menepuk bahu Camlo berkali-kali.
“Kak, liat deh ada cewek cantik tuh!”
“Argh! Bisa nggak sih jangan nepuk-nepuk bahu aku? Sakit tau!” ucap Camlo kesal
“Ih aku serius kak, makanya liat dong”
“Mana sih ceweknya? Secantik apaan?” ucap Camlo dengan nada remeh.
“Itu dia!” sambil menunjuk seorang gadis yang sedang berjalan di koridor.
Camlo mematung melihat gadis itu, Camlo mengakui bahwa kali ini adiknya memang jenius karena bisa menemukan seorang bidadari surga.
“Halo kak, masih hidup kan?” ucap Lussy sembari menjelentikan jarinya di wajah kakaknya itu, dan sukses membuyarkan lamunan Camlo.
“Hah? Oh iya dek! Mata kamu tajem juga ya!” puji Camlo.
“Iyadong, aku gitu loh. Emangnya mata kakak! Kebanyakan ngeliatin cabe-cabean sih hahaha” ejek Lussy
“Hmmm, iya kali ya? mata aku udah terinfeksi sama virus cabe-cabean, makanya aku gak tau kalo ada bidadari di Sekolah” ucap Camlo sambil memegang kedua matanya untuk memastikan bahwa dia tak terinfeksi virus cabe-cabean.
“Kok anda bodoh ya kak? Udahlah aku mau masuk kelas, bye” ucap Lussy meninggalkan Camlo.
*******
Camlo pun masuk kelasnya dan segera duduk karena pelajaran akan segera dimulai, pelajaran pertama adalah Bahasa Indonesia dengan materi Puisi, ini adalah materi kegemaran Camlo karena di materi ini, dia bisa menggunakan otaknya untuk mengarang, yang mengajar pelajaran Bahasa Indonesia adalah Bu Intan yang dikenal ramah dan baik. Bu Intan juga merangkap sebagai Wali Kelasnya. Saat Bu Intan memasuki kelas, ia ditemani seorang gadis yang notabennya adalah murid pindahan. Camlo terkejut, kenapa? Karena gadis yang ditemuinya di koridor tadi, sekarang bersama Bu Intan.
“Selamat pagi anak-anak” salam Bu Intan
“Selamat pagi bu” jawab murid-murid
“Hari ini kalian kedatangan teman baru, dia pindahan dari SMA Negeri 1 Bandung, nah sekarang kamu bisa mengenalkan diri kamu ke teman-teman.” bu Intan mempersilakan anak baru itu untuk memperkenalkan dirinya.
“Hai teman-teman, nama saya Jeslyn Audrey pindahan dari SMA Negeri 1 Bandung, saya harap teman-teman bisa berteman baik dengan saya” ucap Jeslyn.
Camlo yang mendengarnya merasa senang karena gadis itu bisa sekelas dengannya.
“Baik Jeslyn kamu sekarang bisa duduk di bangku paling ujung, barisan kedua samping Camlo. Karena hanya bangku itu yang tersisa” jelas bu Intan.
“Baik bu” ucap Jeslyn.
Camlo berkata di dalam hatinya ‘Omg omg mimpi apa aku semalem bisa duduk sama bidadari ini’ tetapi Camlo tetap bersifat cool karena dia tidak ingin terlihat sebagai pria yang konyol. Jeslyn duduk di samping Camlo dan tersenyum padanya.
“Hai salam kenal ya, aku Jeslyn. kalo nama kamu siapa?” ucap Jeslyn tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
“Ha-hai juga na..nama gue Camlo” ucap Camlo gugup sambil menjabat tangan Jeslyn. ‘Waduh alus baget nih tangan ‘ batin Camlo.
Setelah mereka berkenalan, Bu Intan memberi tugas untuk membuat sebuah puisi. Siswa diberi waktu satu jam pelajaran untuk membuat puisi, dan di jam kedua salah satu perwakilan siswa harus membacakan karyanya di depan kelas. Sekarang Camlo sedang sibuk mengarang puisinya, begitupun dengan Jeslyn. Jam pertama sudah berakhir dan memasuki jam kedua, sekarang saatnya membacakan puisi ke depan kelas. Nama yang dipanggil oleh bu Intan adalah Camlo.
“Camlo Kenzo Julian, silahkan bacakan puisi kamu kedepan” perintah bu Intan.
“Baik bu” jawab Camlo sembari maju ke depan kelas.
Saat Camlo maju, semua mata tertuju kepadanya termasuk Jeslyn. Camlo merasa sedikit gugup, dia menarik nafasnya dalam-dalam dan membacakan puisinya.
Bidadariku
Bidadari dalam khayalku kini menjadi nyata
Berdiri dihadapanku dengan senyuman itu
Bidadari dalam khayalku yang kuanggap fana
Kini masuk ke dalam ruang hatiku
Aku dan diamku
Menyimpan seribu rasa untukmu
Aku dan tawaku
Melukiskan senyum di bibirmu
Jika kau akan kehilangan sayapmu
Jangan pernah takut untuk jatuh
Karena aku akan menangkapmu
Dengan hati yang kau buat luluh
Bidadariku..
Prakk..prakk.prakk
Suara tepukan tangan pertama berasal dari Jeslyn, dan diikuti yang lainnya. Bisa diakui bahwa puisi yang dibacakan Camlo terdengar keren, semua yang berada di dalam kelas ikut terhanyut oleh suasana puisi itu.
“Bagus Camlo, sekarang kamu boleh duduk” ucap Bu Intan
“Terima kasih bu” jawab Camlo.
Camlo pun kembali ke tempat duduknya, disana ada Jeslyn yang memberi senyum tulus kepadanya, dan Camlo pun membalas senyuman Jeslyn.
“Wow, Camlo puisi kamu tadi keren banget! Dapet ide darimana?” tanya Jeslyn.
“Thanks, aku dapet ide itu sebenernya nggak sengaja dari cara tatap aku ke seseorang Jes” jelas Camlo.
“Oh begitu”
********
Bel sekolah berbunyi pertanda jam pelajaran selesai, semua murid meninggalkan sekolah dengan cepat. Camlo dan Lussy sudah berada di dalam mobil untuk segera pulang. Terlihat Jeslyn masih menunggu jemputan di depan gerbang. Camlo pun memberhentikan mobilnya.
"Jes? Kamu kok belum pulang?” tanya Camlo.
"Belum nih, aku masih nungguin taksi lewat” jawab Jeslyn.
"Mau bareng gak? Emang rumah kamu dimana?”
"Serius nih? Rumah aku di jalan Akasia No. 135” ucap Jeslyn.
“Hah?! Berarti kita tetanggaan dong? Kok ngga pernah liat ya?” kata Camlo.
“Wajar kok, akukan baru pindah kemarin” ujar Jeslyn.
“Hey bodoh, kamu itu nanya terus, sebenernya niat nganterin ka Jeslyn pulang gak sih?” ucap Lussy kesal.
“Hehe iya lupa, yaudah Jes masuk aja ” tawar Camlo
“Okay makasih” ucap Jeslyn sambil masuk ke dalam mobil.
Mereka pun pulang bersama, Lussy, Camlo dan Jeslyn semakin akrab dan sudah seperti adik kakak. Setiap hari mereka bertiga selalu menghabiskan waktu bersama, karena mereka mempunyai hobi yang sama yaitu basket. Jeslyn ternyata jauh lebih jago dibandingkan Camlo, sebenarnya Camlo menyukai Jeslyn, tetapi perlahan Camlo merasa kalau Jeslyn hanya menganggapnya sebagai sahabat. Karena Camlo tidak ingin merusak persahabatannya dengan Jeslyn, akhirnya dia hanya mengaggap Jeslyn sebagai seorang sahabat dan mencoba untuk membuka hati kepada wanita lain, bodohnya Camlo adalah saat dia berusaha menyimpulkan bahwa Jeslyn tak menyukainya tanpa bertanya apapun pada Jeslyn . Namun sebaliknya, Jeslyn selalu merasa nyaman berada di samping Camlo, rasa suka berubah menjadi rasa sayang dan membuat Jeslyn takut untuk kehilangan Camlo, tetapi Jeslyn hanya memendam perasaannya, dan berharap bahwa suatu saat Camlo akan menyatakan cinta untuknya.
*******
Dua tahun sudah berlalu, Jeslyn dan Camlo berada di satu Universitas yang sama. Persahabatan Jeslyn dan Camlo pun semakin dekat, begitupun rasa sayang Jeslyn kepada Camlo yang semakin membuatnya gila. Tapi semuanya berubah saat..
“Jeslyn!!!” teriak Camlo sambil menepuk pundak Jeslyn.
“Apaansih Cam, bikin kaget aja” Jeslyn merasa kesal.
“Jangan ngambek gitu dong, sekarang ikut gue yuk” tawar Camlo dengan menggenggam tangan Jeslyn.
Sontak itu membuat hati Jeslyn tak karuan dan berfikir bahwa Camlo akan memberinya kejutan. Camlo menarik tangan Jeslyn dan membawanya ke taman belakang.
“Ma…mau ngapain disini?” tanya Jeslyn dengan gugup.
“Aku mau ngasih tau kamu kabar gembira hari ini!!” ucap Camlo.
“Kabar gembira a..apa?” hati Jeslyn semakin berdegub kencang.
“Aku hari ini jadian sama Carissa anak jurusan Kimia.. duh Jeslyn. Aku seneng baget, dan sebagai sahabat kamu harus doain supaya aku langgeng yah!” jelas Camlo sambil memeluk Jeslyn karena dia bahagia.
Hati Jeslyn terasa sangat sakit, seperti seseorang yang kehilangan oksigen hingga tidak bisa bernafas lagi. Bibirnya bergetar hebat karena menahan air matanya agar tidak jatuh. Jeslyn sangat ingin menangis karena baru pertama ia merasa patah hati yang ternyata sangat sakit. Tetapi dia tetap tersenyum untuk menjaga perasaan Camlo. Dia menyadari bahwa selama ini rasa yang ia punya untuk Camlo itu sia-sia, hanya sekedar sahabat.
“Jes? Kok kamu diem aja sih?” ucap Camlo yang membuyarkan lamunan Jeslyn.
“Ha? Oh iya selamat ya, se..semoga kalian langgeng” ucap Jeslyn dengan berat hati.
“ Thanks,kamu emang sahabat aku yang paling baik Jes!” kata Camlo.
“Oh ya, aku pulang dulu ya Cam. Mau jagain rumah, soalnya bunda siang ini pergi arisan.” ujar Jeslyn untuk mencari alasan agar dia terhindar dari suasana yang membuat hatinya sakit.
“It’s okay, mau aku anter?” tawar Camlo.
“Thanks, aku bawa mobil sendiri kok. Bye Cam!” sambil melambaikan tangannya kepada Camlo.
Camlo tersenyum ke arah Jeslyn, tetapi senyuman Camlo tak lagi membawa kebahagiaan bagi Jeslyn, justru hatinya merasa semakin sakit.
Sesampainya di rumah Jeslyn mengurung dirinya di kamar. Dia menangis sepuasnya hingga matanya sembab. Dia berpikir bahwa Camlo dan Dia akan mempunyai rasa yang sama, tapi ternyata tidak Jeslyn menganggap angan-angannya terlalu tinggi. Dia bahkan pernah berpikir puisi Bidadari yang dibuat Camlo ditunjukkan untuknya. Jeslyn hanya bisa menulis semua isi hatinya di dalam diary kecilnya itu. Tiba-tiba bel rumah berbunyi.
“Assalamualaikum, Jeslyn?” salam Camlo sembari memencet bel rumah Jeslyn.
Jeslyn tau itu suara Camlo, dia merasa bingung karena matanya masih sembab, dia takut Camlo curiga akan hal ini. Jeslyn langsung menuju kamar mandi dan membasuh mukanya.
“Wa’alaikumsalam, Iya cam, sebentar ya” teriak Jeslyn dari dalam rumah.
Jeslyn buru-buru untuk membukakan pintu, di depan rumah sudah ada Camlo yang mengenakan sweether berwarna abu-abu dan jeans hitam.
“Jeslyn ikut aku yuk, kita makan-makan. Anggap aja ini sebagai pajak jadian, makanya aku mau traktir kamu sama Lussy” tawar Camlo.
“Gimana ya cam? Kepala aku pusing banget nih” ucap Jeslyn berusaha menghindari Camlo.
“Kamu sakit Jes? Mata kamu sampe bengkak gitu” tanya Camlo
"Mungkin gara-gara kebanyakan tidur” jawab Jeslyn, dia terpaksa berbohong pada Camlo.
“Iyaudah Jes, aku ngga bisa maksa kamu, aku pergi duluan ya! Cepet sembuh ya! Bye” pamit Camlo sambil mengacak rambut Jeslyn, Jeslyn hanya membalas dengan senyum buatannya (fake smile).
Dua bulan sudah berlalu, Jeslyn masih belum bisa Move On dari Camlo, dia masih bertahan dengan perasaan yang sama. Semakin ia dekat dengan Camlo, perasaan sakit itu selalu muncul di hatinya. Dia sudah tidak tau lagi bagaimana caranya agar dia bisa menghapus perasaannya pada Camlo. Satu-satunya cara agar dia bisa melupakan Camlo adalah dengan menjauhinya, sebenarnya dia terpaksa melakukan ini, daripada harus tersiksa dengan perasaannya sendiri.
Camlo menyadari perubahan sikap Jeslyn, Camlo merasa kalau Jeslyn sengaja menjauhinya. Camlo bingung dan kesal karena ia tidak tau atas dasar apa Jeslyn menjauhinya. Camlo selalu mendekati Jeslyn, tapi Jeslyn selalu memiliki alasan untuk pergi.
Suatu hari Jeslyn merasa bosan di rumah, ia memutuskan untuk pergi ke Mall. Sesampainya di Mall, Jeslyn dikejutkan karena ia melihat Carissa sedang dating bersama Mark.
“Itu siapa ya? Kayaknya aku kenal?” ucap Jeslyn sambil mengingat kembali siapa gadis itu.
“Ehmm oh ya aku inget! Itu bukannya Carissa pacarnya Camlo? Tapi kenapa dia jalan sama cowok lain ya? Wahwahwah ngga bener nih, jangan-jangan Carissa selingkuh! Aku harus foto dan tunjukin ke Camlo” ucap Jeslyn sambil mengeluarkan Handphonenya, dia mengambil beberapa foto Carissa dengan pria itu.
“Yay dapet, lagian gampang banget sih Carissa dapetin Camlo, bukannya bersyukur malah selingkuh. aku yang sahabatnya aja bertepuk sebelah tangan, sakit hati aku diginiin hiks” gumam Jeslyn dengan nada yang terkesan alay.
Dia segera pergi dan memutuskan untuk ke rumah Camlo. Saat ini hujan sangat deras, tapi Jeslyn tetap ingin ke rumah Camlo. Jeslyn mengendarai motor dari Mall sampai rumah Camlo. Dia tak menghiraukan dirinya yang sudah basah kuyup.
Jeslyn sudah tiba di depan rumah Camlo, ia mengetuk pintu rumah Camlo.
“Assalamualaikum, Camlo! Camlo! Camlo!” ucap Jeslyn mengetuk gerbang rumah Camlo.
Tak lama kemudian ada seseorang yang membukakan pintu, itu adalah Camlo.
“Berisik banget sih! Ngapain lo kesini?” tanya Camlo dengan nada kesal.
“Gawat Cam, tadikan aku ke Mall, terus aku ngeliat pacar kamu si Carissa dating sama cowok lain” ucap Jeslyn meyakinkan. Tapi tidak sesuai harapan, Camlo malahan marah pada Jeslyn.
“Eh jaga ya mulut lo! Lo udah jauhin gue dan sekarang lo dateng nuduh pacar gua selingkuh! Gila ya lo!” kata Camlo.
“Maaf aku salah, tapi serius aku ada buktinya kok. Aku ngambil beberapa foto mereka tadi” seru Jeslyn berusaha untuk meyakinkan Camlo kembali.
“CK! Dasar penipu! Gak usah munafik lo, lo pasti mau ngancurin hubungan gua kan?!” Camlo sudah terlihat sangat marah, dia mendorong Jeslyn keluar rumah sampai Jeslyn terjatuh di jalanan, kakinya terkilir dan tidak bisa digerakan! Jeslyn berusaha meminta tolong pada Camlo, karena dia tidak bisa berdiri.
“Aw.. Cam, tolongin aku. Aku ngga bisa berdiri. Kaki aku sakit Cam. Pliss ngga apa-apa kalau kamu ngga mau dengerin penjelasan aku. Tapi tologin aku Cam.. Hikss…Hikss” pinta Jeslyn sambil menangis kesakitan, tangisan Jeslyn tertutupi karena Hujan. Tapi Camlo sudah dibutakan oleh cinta! Dia tidak menghiraukan sahabatnya lagi.
Camlo segera menutup gerbang rumahnya dan masuk ke dalam rumah. Sudah ada Lussy yang daritadi melihat semua kejadian itu, Lussy mendekati Camlo.
“Aku ngga nyangka, ternyata kakak itu jahat banget ya” ucap Lussy lalu pergi meninggalkan Camlo.
Camlo mematung saat mendengar ucapan yang keluar dari bibir adiknya itu. Camlo berusaha menenangkan diri. Dia berusaha tidur dan melupakan semuanya.
Keesokan harinya Camlo berangkat ke kampus. Dia masih terbayang kejadian tadi malam. Dia mencoba tidak mengingatnya lagi, dan akhirnya dia putuskan untuk mendatangi pacarnya, Carissa. Camlo daritadi mencari pacarnya keseluruh gedung kampus, tetapi dia tidak melihat Carissa. Sampai akhirnya, dia berhenti di kantin, matanya tertuju pada seorang wanita yang ia kenal bersama lelaki lain.
Dug!
Hati Camlo hancur melihat Carissa bersama Mark, yang notabennya sahabatnya sendiri. Dengan emosi Camlo mendatangi mereka berdua.
“Apa yang kamu lakuin disini?!” ucap Camlo.
"A…a..aku nemenin pacar aku Cam” jawab Carissa gelagapan.
“Pacar? Terus selama ini aku siapa kamu Carr?!” bentak Camlo.
Mark yang daritadi diam akhirnya angkat bicara.
“Seharusnya lo sadar Camlo! Carissa itu pacar gue, dan lo itu cuma jadi yang kedua setelah gue?” ucap Mark dengan santainya.
“Bener kata Mark? Ja..jawab aku Carissa!” ucap Camlo kacau.
“Iya, sebenernya pas kamu nyatain cinta ke aku. Aku udah pacaran sama Mark. Sory, hubungan kita sampai disini ya” ucap Carissa.
“Jadi selama ini? Hah good acting Carissa, dan buat lo Mark! Jangan jadi lelaki bodoh yang mau diduain sama cewek” ucap Camlo lalu meninggalkan Mark dan Carissa.
Pikiran Camlo sangat kacau, ia memutuskan untuk pulang dan mengurung dirinya di kamar. Saat di kamar, dia merasa menjadi lelaki yang sangat bodoh karena menyianyiakan sahabatnya Jeslyn. Sekarang pikirannya hanya tertuju pada Jeslyn, rasa bersalah yang menyelimuti pikiran Camlo sangat mengganggunya. Akhirnya Camlo putuskan pergi ke rumah Jeslyn untuk menemui dan meminta maaf padanya.
"Assalamualaikum" ucap Camlo sambil mengetuk rumah Jeslyn.
"Wa'alaikumsalam, eh Camlo. Udah lama ngga main ke rumah" ucap wanita paruh baya, yang tidak lain adalah Bunda Jeslyn.
"Iya tan, baru ada waktu nih. Camlo sibuk ngurusin kuliah kemarin, mmm ngomong-ngomong Jeslynnya ada tan?" tanya Camlo.
"Oalah, ada kok lagi di dalem. Dia demam, terus kakinya terkilir gitu, katanya sih kemarin dia kepeleset." jelas Bunda Jeslyn.
"Serius tan? Camlo boleh masuk ngga tan? Mau liat Jeslyn" ucap Camlo dengan nada yang terkesan khawatir. Dia semakin merasa bersalah pada Jeslyn.
"Iya Cam, masuk aja. Sekalian Tante minta tolong sama kamu ya buat nemenin Jeslyn. Soalnya Tante harus ke kantor papahnya Jeslyn buat bantu ngurusin perusahaan" pinta Bunda Jeslyn.
"Okay tan, Camlo bakal jagain Jeslyn kok" ucap Camlo.
********
Krek
Camlo membuka pintu kamar Jeslyn. Dia melihat Jeslyn yang terbaring lemah di kasurnya, dengan handuk di atas kepalanya.
"Jeslyn?" sapa Camlo.
Jeslyn menoleh ke arah suara tersebut, dia mematung melihat Camlo yang berdiri diambang pintu kamarnya. Dia takut Camlo menyakitinya lagi.
"Cam.. Camlo ngapain ka..kamu disini, jangan sakitin aku lagi Cam. Aku ta...takut... hiks ..hiks" ucap Jeslyn lirih.
Camlo terkejut melihat Jeslyn yang takut akan kehadirannya.
"Jeslyn, jangan takut. Maafin aku, aku salah Jes, aku terlalu dibutain cinta sampai-sampai aku nyakitin kamu. Sekarang terserah kamu mau apain aku Jes, aku terima itu. Tapi tolong maafin aku Jes" pinta Camlo.
"Mudah buat kamu minta maaf ya Cam. Hehe padahal aku kemarin datang buat jelasin semua, dan dengan kasarnya kamu dorong aku. Sampai akhirnya aku jatuh. Iya Cam, aku jatuh untuk yang kedua kalinya karena kamu. Aku bodoh ya Cam. Cih! Kamu ngga usah minta maaf, karena aku ngga pernah bisa marah ke kamu. Saat ini mungkin aku hanya kecewa, ya kecewa" jelas Jeslyn dengan tatapan kosong. Pertahanan hatinya runtuh, dia membiarkan bulir-bulir air mata yang jatuh membasahi pipinya.
Camlo membisu, dia menghapus air mata Jeslyn. Lalu menarik Jeslyn ke dalam pelukannya. Dia berharap Jeslyn akan tenang.
"Jes, aku bener-bener minta maaf sama kamu. A...ku sayang sama kamu Jes. Jangan buat aku hanyut dalam rasa bersalah yang aku buat ke kamu" ucap Camlo sambil mengelus rambut Jeslyn.
Jeslyn melepaskan pelukan Camlo. Dia tersenyum tulus. Sambil menyeka air matanya.
"Lupain yang kemarin Cam, aku ngga apa-apa. Aku ngga mau persahabatan kita rusak karena salah faham" ucap Jeslyn.
"Kamu baik banget Jes, jangan jauhin aku lagi ya. Kan aku jadi bingung kenapa kamu jauhin aku saat itu?" tanya Camlo.
"Hah? E..engga kok" ucap Jeslyn gugup. Camlo pura-pura percaya dengan Jeslyn, tetapi sebenarnya dia tau Jeslyn bohong.
"Iyaudah, cepet sembuh ya, Jeslyn sayang" ucap Camlo sambil mengacak-acak rambut Jeslyn.
Muka Jeslyn memerah dan menundukan kepalanya.
******
Seminggu sudah berlalu.
Jeslyn sudah sembuh dan memulai kuliahnya kembali. Dia semakin dekat dengan Camlo. Sekarang dia sedang belajar bersama dengan Camlo.
Tiba-tiba ia ingin pergi ke toilet, dia menitipkan semua bukunya kepada Camlo lalu pergi ke tolilet. Pandangan Camlo tertuju pada sebuah buku cantik yang terbalut sampul merah muda dan tertulis di sampulnya 'Diary'. Karena penasaran ia membuka dan membaca semua diary Jeslyn. Raut wajahnya berubah, ia tersenyum melihat tulisan Sahabatnya itu, namun ketika ia membaca halaman terakhir.
Dear Camlo Kenzo Julian
30 Desember 2016 hatiku benar-benar hancur. Menghadapi kenyataan terpahitku, melihat mimpi burukku menjadi nyata. Merelakanmu bersama 'dia' wanita pilihanmu. Aku kira kita akan memiliki perasaan yang sama. Perasaan yang akan membawa kita menuju kebahagiaan kelak. Termyata aku salah, hanya aku yang memiliki semua perasaan ini. Entahlah aku merasa bodoh dengan apa yang aku rasakan saat ini. Aku ingin selalu ada di sampingmu, tapi seakan-akan kondisimu yang saat ini sudah menjadi miliknya menghalangiku. Mungkin aku akan perlahan menjauhimu, aku ingin mengakhiri rasa yang sudah aku tanam sejak lama. Bahkan saat pertama kali kita bertemu, lalu mendengar kau membacakan puisi 'bidadari ' aku sempat mengira itu untukku. Tapi anganku terlalu besar. Nyatanya kita hanya ditakdirkan untuk menjadi sepasang sahabat. Haha I love you Camlo.
Deg
Camlo terkejut, dia merasa bodoh karena selama ini telah menyakiti hati sahabatnya. Camlo sadar rasa yang ia rasakan dulu ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Dia hanya terlalu takut untuk mengakuinya. Camlo merasa menjadi seorang pengecut saat ini.
Jeslyn menghampiri Camlo, dia membuyarkan lamunan Camlo. Saat itu Camlo langsung menarik Jeslyn ke dalam pelukannya. Jeslyn terkejut.
"Lho, kamu kenapa Cam? " ucap Jeslyn.
"Kenapa kamu ngga bilang dari dulu sih Jes, aku juga punya perasaan yang sama. Iya sama kayak apa yang kamu rasain ke aku. Andai dulu aku bukan pengecut, mungkin hubungan kita ngga akan serumit ini" jelas Camlo.
"Maksud kamu Cam? " Jeslyn masih terlihat bingung dengan apa yang Camlo bicarakan. Tapi ia tersadar bahwa buku Diary miliknya. Sekarang berada di tangan Camlo. Dia sangat malu, apaagi sekarang Camlo tau perasaannya.
"Kamu ngga usah malu Jes, aku juga cinta sama kamu. Cinta banget Jes. Will you be mine? " ucap Camlo sambil berlutut memegang tangan Jeslyn.
Jeslyn terpaku. Dia merasa ini seperti mimpi, dia sangat bahagia.
"Yes I will" ucap Jeslyn yang saat ini terhanyut dalam pelukan Camlo.
~Tamat~



Komentar
Posting Komentar